Gojek atau GrabBike? ;)

Mau ikutan nulis tentang Gojek dan GrabBike yang lagi booming banget di Jakarta. Nggak nyangka ternyata antusiasme tukang ojek dan penggunanya banyak banget. Sebenarnya, gw nggak pernah begitu merhatiin aplikasi-aplikasi baru yang ada karena pakai aja hampir nggak pernah. Cuma tau sekadar tau.

Akhir 2014 kemarin sempat pas naik taxi, ditawarin supirnya untuk pakai coupon code dia untuk dapat potongan Rp 15.000 (kalau nggak salah) untuk pemakaian pertama. Pas dikasih tau, langsung Nia sama gw semangat pengen coba pas pulang. Pas pulang ini, kita iseng install GrabTaxi terus coba pesan taxi tapiiiiiii……. nggak ada donk taksi yang mau terima job dari kita. Mungkin karena abis hujan besar dan lokasi kita ada di Jelambar!

Setelah beberapa kali trial nggak ada yang mau, kita sempat ditelepon sama operatornya, nanya mau dicariin nggak (suara operatornya kecil banget). Ya tentu saja mau. Setelah beberapa lama mencoba, akhirnya kita minta tolong dipanggilin taxi dari pangkalan terdekat aja, yang penting ada yg mau dan bisa segera pulang.

Menurut gw, enaknya dari aplikasi-aplikasi gini itu kita nggak dikasih HARAPAN PALSU. Begitu kita pesan, kita bisa langsung tahu ada berapa taxi yang available di sekitar kita. Dan, dalam hitungan menit kita langsung tau supir-supir tsb ada yang mau jemput kita atau nggak. Pasti semua pada tau betapa nggak enaknya digantungin, misal:

  • Nembak cewek, ceweknya pura-pura nggak dengar. Nembak berikutnya, dijawab kita temenan aja. Nembak lagi, minta dikasih waktu. Nembak lagi, bilang sahabatan aja. Tau gitu, mending dari pertama langsung ditolak, ya nggak sih? Daripada buang-buang waktu. Siapa tau selama ‘waktu tunggu’ itu ada cewek idaman lain yang keburu lewat (baca: diembat cowok lain) karena kita terpaku nungguin 1 cewek yang GALAU itu.
  • Ujian udah tau kita cuma bisa jawab 1 dari 10 soal tapi mesti nunggu dosennya input nilai. Apalagi kalau abis ujian gitu biasanya liburan. Kebanyakan dosen pun liburan dulu, bukannya selesaiin koreksi dan input nilai. Yes, karena mereka dosen pasti ditunggu. Liburan pun jadi nggak tenang walaupun 90% udah yakin harus re-take subject itu.
  • Mau pasang internet atau TV kabel, udah datangin kantornya berkali-kali, dibilanginnya nanti sore kalau nggak besok mulu. Berhubung ada yang mau datang, ya kita kan nunggu di rumah, nggak pergi-pergi. Eh, nggak taunya datanya 2 minggu kemudian. Itu pun ngerjainnya tanggung karena mau baru mau dilanjutin abis Lebaran. Cape deh. Contoh ini baru dari pengalaman pribadi.
  • Atau, biar lebih riil, pas nunggu bis tapi setelah kita nunggu 1-2 jam ternyata bis dengan nomor yang mau kita naikin nggak lewat-lewat karena supir-supirnya ternyata udah pada pulang cepat karena bulan puasa. Mending kita naik kendaraan lain, bisa-bisa udah santai-santai di rumah. Contoh ini juga pengalaman pribadi.

(ups, jadi curcol dikit)

 

Balik ke topik utama.

Baru benar-benar merhatiin begitu Devi cerita mau pulang kantor pesan Gojek/GrabBike (yang lagi promo apa aja gw nggak tau) karena lagi ada promo gratis atau bayar goceng atau bayar ceban dalam radius sekian km. Pokoknya, dari kantor di Kuningan sampai kosan nggak perlu nambah lagi.

Asiknya:

  • Bisa tau ojeknya sampai berapa menit lagi (kita nggak perlu nunggu-nunggu nggak jelas di pinggir jalan Jakarta yang penuh debu dan trotoarnya masih kurang bersahabat buat pejalan kaki).
  • Bayarnya murah (bahkan bisa gratis) dan sistem argonya jelas.
  • Lebih aman karena tercatat kita naik ojek siapa dan pihak perusahaan harusnya udah melakukan survey seputar pengendaranya. Nggak ada dag-dig-dug takut diapa-apain pas naik taxi/ojek (ibukota memang kejam ><)
  • Lebih cepat, apalagi kalau Jakarta lagi macet-macetnya. Naik motor itu enak banget. Pegel sebentar pas di jalan mah nggak masalah dibanding ngabisin berjam-jam nunggu lewat lampu merah ><

Ngomong-ngomong soal argo yang jelas ini, jadi ingat pengalaman pribadi hampir naik ojek di Jakarta. Gw waktu itu mau ke Gambir naik busway. Biasanya kan bis bakal stop di halte Gambir. Entah kenapa hari itu dibilangin nggak lewat halte Gambir dan disuruh di halte Monas. Gw pun nurut sambil bingung mikirin ngejar kereta jam 11:00 atau 13:00. Disuruh nunggu bis berikutnya yang mau ke Gambir, yang ternyata setelah 2-3 bis, nggak muncul-muncul.

Akhirnya gw keluar dari halte dan nawar ojek di seberang jalan. Mau ke Gambir yang tinggal mutarin Monas dan nggak jauh itu, dia minta 15 atau 20 ribu pertamanya. Akhirnya turun ke 10 ribu tapiiiiii duit di dompet tinggal 9 ribu (udah receh-receh dihitung, hahaha). Kebetulan waktu itu lagi nggak ada uang tunai, mau pulangnya juga mendadak kalau nggak salah. Rencana ambil duit di Gambir (ternyata ATM BCA-nya hari itu pas nggak ada T.T) Gw nawar deh, 9 ribu aja. Eh, dicuekin sama abangnya. ><

Abis itu, ada taxi lewat, langsung gw stop deh. Begitu naik gw kasih tau aja kalau cuma ada 9 ribu. Sampai pintu masuk Gambir (nggak masuk ya, gimana mau bayar uang parkir yg 5.000 itu :p), argo nggak ada perubahan yg signifikan. Kalau dulu udah ada Gojek/GrabBike gitu, aman dari ‘digetok’ harga deh.

 

Di sisi lain, pakai Gojek dan GrabBike tetap ada nggak enaknya. Nggak enaknya itu kalau pas jam sibuk, kayak jam pulang kantor gitu, susah banget dapat ojeknya. Pengalaman Devi pernah ‘ditolakin’ mulu selama setengah jam. :)

 

Hal lain yang bikin gw terpesona adalah liat bapak-bapak tua bisa pakai smartphone. Akhir-akhir ini gw sempat ikut Hai2 ke Sudirman. It really amazed me lihat mereka, yang biasanya lihat tulisan kecil-kecil udah susah, yang belajar hal baru itu males, bisa pada pakai smartphone. Bisa pakai maps untuk cari lokasi yang order. Bahkan, kalau yg lagi ‘nongkrong’ di pinggir jalan sibuk refresh aplikasinya untuk cari job terdekat. Ada juga beberapa cewek yang ikutan ngojek dan mereka ternyata nggak kalah jago bawa motor sama cowok-cowok. Practice makes perfect. Cool abis dah!

 

Buat yang penasaran tentang perbedaan Gojek dan GrabBike, monggo lihat infographic berikut (buat yang penasaran, silakan lihat gambar lengkapnya di Kaskus)

gojek vs grabbikeSeragamnya mirip-mirip ya 😛

 

Note: Berhubung gw nggak pakai aplikasi Gojek atau GrabBike (download pun belum), jadi nggak bisa share coupon code kayak orang lain. Padahal lumayan yah, yang pakai dapat diskon, gw dapat pendapatan tambahan (pede banget ada yang mau pakai aja, hehe)

2 thoughts on “Gojek atau GrabBike? ;)”

  1. Hi sis,

    Belakangan aku juga pake grab bike buat balik kantor ke rumah.
    Tapi pernah sekali, aku pesan dan uda dapat drivernya, yang mana kalau drivernya uda sampai ak dapat notif “Your driver has arrived”, which is pada saat itu dapat juga notif itu, tapi pas di teleponin dan di-sms-in, drivernya ga ada comment sama sekali, kecewa bangeet sih waktu ituu.

    Soo,, mulai dari situ, sebelum ketipu, kalau uda dapat driver, ak langsung contact drivernya, baik lewat sms ataupun langsung telp ke drivernya…

    1. Mia, thanks infonya, berguna buat yg lain.
      Mudah-mudahan kamu gak ngalamin kejadian yg mengecewakan lagi ya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *