Kabut Asap

Beberapa hari yang lalu, kena juga dampak dari kabut asap. Sore-sore, pas lagi liat jendela, kok langit putih semua? Pas didekatin, baru sadar ini mah asap, abis langit udah ga keliatan. Awalnya, gw kira ini asap dari Riau – maklum, yang sering kebakaran hutan kan di sana.

Eh nggak taunya pas besoknya nonton berita (iyaa, memang jarang nonton tv, biasanya cuma liat kompas.com atau detik.com doank dan di sana nggak ada berita sama sekali tentang ini), gw baru tau kalau ada kebakaran di dekat Palembang. Jembatan Ampera aja sampai nyaris nggak keliatan. Ternyata berita online-nya memang sedikit, cari-cari cuma dapat ini.

Thanks God, setelah 2 hari penuh kabut akhirnya pas malam hujan lumayan deras. Besoknya langsung kita bisa lihat birunya langit. Senang banget bisa liatnya, setelah 2 hari rasanya putih terus mulu. Untungnya lagi, gw lagi nggak perlu-perlu keluar ruangan, nggak ke mana-mana gitu, kerja di dalam ruangan terus (memangnya tiap hari nggak begitu? Hehehe).

Kejadian kabut asap ini bikin gw ingat kejadian 1 tahun lalu, di mana kita ada flight dari Palembang – Jakarta. Waktu itu sengaja ambil flight paling malem, jam 10 malam, supaya siangnya bisa kerja dulu. Ternyata, akhirnya kita baru terbang jam 3 pagi! Itu pengalaman paling berkesan, nginap di bandara. Apalagi, jam 9-nya udah ada janji ketemu orang. Cerita lengkapnya ada di sini.

Subuh-subuh sampai di Jakarta, belum sempat tidur, udah mesti siap untuk jalan lagi. Kebetulan, pas tahun lalu itu, kabutnya sampai ke Jakarta (dan ke Singapura juga kalau ga salah), dan kita ketemunya orang Singapura yang bawel banget. Ketemu juga baru 1x, udah sok-sok komplain tentang kabut asap ini. Who you’re to blame 😛 siapa juga yang pengen berkabut asap gini.

Setelah itu, kita kapok donk ambil flight paling malam. Kita selalu ambil 1 sebelum paling malam  (jam 8 kurang dikit) biar kalau delay nggak parah-parah banget. Jangan sampai tidur di bandara lagi, nggak enak banget! But, that’s life, it makes us richer :)

Kemarin, pas kita harus ke Jakarta, mau nggak mau kita pesan tiket, dan cuma bisa berharap kabut nggak mempengaruhi penerbangan. Kalau pun delay, sebentar aja, jangan parah banget kayak tahun lalu. Walaupun udah nggak separah beberapa hari sebelumnya, ternyata di ruang tunggu ini kabutnya masih berasa banget, walaupun tipis. Berhubung gw keliatan, rasanya mata jadi cepat capek. Hai-hai is lucky enough not being able to see it, haha.

Tiba-tiba ada ada penumpang dari 1 pesawat turun semua, masuk ke ruang tunggu. Kita bingung donk, kok bisa-bisanya kalau transit sampai 1 rute gitu, kenapa ga ambil rute langsung aja? Dan, penumpang-penumpangnya kayak kelaparan banget, pada beli pop mie dan minum gitu. Masih berpikiran positif kalau mereka penumpang transit: mungkin flight-nya delay dan baru lewat jam makan.

Akhirnya kita dapat pencerahan juga, ternyata penumpang-penumpang tsb harus turun sekitar 1-2 jam karena pilotnya nggak berani lanjut, terlalu berkabut. Mungkin yang ke arah utara lagi ya, soalnya nggak lama kemudian kita dapat panggilan untuk masuk! Yesss, delaynya nggak lama (gampang banget dibikin senangnya, hehehe), total-total paling sekitar 30 menit.

Semoga mereka yang penerbangannya terpaksa berhenti itu nggak perlu nunggu lama-lama dan bisa lanjut lagi. Semoga juga, nggak ada lagi kejadian kabut asap gini, bikin mata pedih dan nggak bagus untuk kesehatan.

Kalau sekadar kabut kan memang nggak bisa dihindari, apalagi kalau kita berpergian ke daerah yang tinggi atau berpergian tengah malam. Again, that’s life! And it did make us stronger each time although it wasn’t easy during the struggling time 😛

1 thought on “Kabut Asap

Leave a Comment